The Inaugural Issue

Read the English translation

Bab 22. Perempuan

Nuril Basri

 

Aku tak menyangka akan kehilangan keperjakaanku, pada seorang lelaki, pada temanku sendiri. Lalu aku berpikir, memangnya apa yang akan kami lakukan nanti? Aku sama sekali tidak tahu banyak tentang seks sesama lelaki.

 

Dan pintu kamar mandi itu terbukalah semakin melebar. Aku berhenti menonton kartun dan merasa jantungku akan hancur saking cepatnya berdebar.

 

Sesosok orang keluar perlahan.

 

Mataku membulat. Jantungku yang tadinya berdentum-dentum, sekarang terasa berhenti. Hanya bisa diam, terpesona dan kaget tapi tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku terkesima dengan cahaya terang di hadapanku. Hanya saja, bukan cahaya terang yang ada di hadapanku kala itu.

 

Paris, tampak… tunggu… apa itu Paris? Aku sempat ragu. Tapi itu pasti Paris. Aku mengenali raut wajahnya—meski aku sudah tidak bisa mengenali dandanannya.

 

“Ka… kamu takut, ya?” tanyanya kaku.

 

Aku mengangguk tanpa sadar… Lalu buru-buru menggeleng.

 

“I.. itu kamu?” aku tergagap.

 

Paris mengangguk, mencoba seanggun mungkin, tapi kakinya gemetar. Aku mengerutkan kening sambil membuka mulut. “Kok… kamu dandan kayak begitu?” mataku jatuh mula-mula pada sepatu hak tingginya—aku ingat pernah membantu memilihkannya untuknya. Lalu aku melihat stoking hitamnya… Kemudian naik ke atas baju ketatnya yang menyambung dengan rok ketatnya juga—aku juga ingat baju itu. Di pinggangnya melingkar sebuah ikat pinggang besar bermotif kulit ular yang aneh. Lalu rambutnya… wig itu… dia membelinya di pasar barang bekas. Pasar barang-barang second kala itu… dan wajahnya. Sekali lihat aku tahu dia memakai bedak yang tebal dengan pewarna kelopak mata dan pemerah pipi. Kemudian bibirnya dipulas lipstik yang merah menyala.

 

“Aku cantik nggak?” tanyanya takut-takut.

 

Aku tidak mendengar pertanyaannya. Aku sedang kalut dan terlena. “Kok, kamu pakai baju perempuan sih?” aku menunjuknya.

 

“Aku pantas nggak?” tanya dia kesal.

 

Aku menggeleng.

 

“Nggak pantas?” tanyanya kaget.

 

Alih-alih menjawab, aku malah membentaknya, “Kamu apa-apaan sih?!”

 

“Cocok nggak baju ini buatku?” ulang dia khawatir.

 

“Kamu mau ML pakai baju itu? Kamu mau pura-pura jadi perempuan?” simpulku. Aku bisa mendengar suara Spongebob dan Patrick sedang tertawa dari dalam TV datar itu. Seperti sedang mengolokku. “Hahaha-hahaha.”

 

“ML?” dia kaget, berhenti khawatir.

 

“Iya ML… Ya, kamu mengajaku ke sini karena mau ML, kan?” tanyaku mencoba mengerti.

 

“KAMU GILA, YA?!” bentaknya menjadi-jadi. Bulu mata palsunya mungkin akan lepas. “SINTING!!!!” Tambahnya lagi ke arahku. Emosi. Suaranya bergetar. “ML sama kamu, bahkan nggak pernah terbayang olehku!!!”

 

Aku mengerjap. Perutku hangat. “Lantas, buat apa kamu mengajakku ke sini?”

 

“Buat lihat aku!!! Lihat aku cantik apa enggak!!! Pantas apa enggak!!! Dari tadi kutanya nggak kamu jawab!!! Aku cuma mau tahu pendapatmu! Bukan ngajak ML! Sinting!”

 

Seandainya kamar hotel itu tidak kedap suara, penghuni kamar sebelah pasti terperanjat mendengar jeritan-jeritan Paris yang melengking ber “ML- ML” dan Ber “Sinting-Sinting”. Aku mengangguk-angguk ketakutan.

 

“Pantas nggak!!!” sungutnya mendekatiku.

 

“Ng-nggak…” jawabku lirih. Paris mendelik. “Lagian kamu cowok… masak mau pakai baju perempuan…” tambahku.

 

“Memangnya kenapa kalau aku pakai baju perempuan? Salah ya? Aku pengin jadi perempuan!”

 

“Ya walaupun pakai baju perempuan, kamu tetap lelaki… itu kan takdirmu,” aku masih ketakutan.

 

“Aku pengin jadi perempuan! Ngerti nggak?!!” Paris mendekatiku dan membuas di depan mataku. Aku bergeming tak tahu apa yang harus kulakukan. Pasti salah perkataanku. Mukanya dan mukaku hanya berjarak dua senti, aku bahkan bisa merasakan deru nafasnya. Pada detik itu aku sudah mengira kalau Paris pastilah sedang kesurupan… kesurupan setan perempuan jahat. Lalu yang tak kusangka, tiba-tiba dia ambruk di lantai kamar yang berkarpet empuk itu… sambil menutupi muka. Dan terdengar menangis.

 

Aku menjadi salah tingkah dan bingung. Dia terus menangis terisak seperti perempuan yang cintanya ditolak di sebuah acara sinetron. Tapi aku masih terdiam memandang kosong ke segala tempat. Kubiarkan dia menangis beberapa lama sampai akhirnya dia mendongak padaku.

 

Tuhan, mukanya amat seram.

 

Dari matanya mengalir sungai yang berwarna hitam.

Sebagian pipinya cemong. Matanya memerah dan bedaknya luntur mewarnai telapak tangannya. Belum lagi lipstiknya yang sekarang menempel di gigi-nya

 

“Ngaca sana. Mukamu seram,” ceplosku. “Mau jadi cewek kok kayak topeng monyet…”

 

Paris diam sebentar, masih sambil sesenggukan lalu dia bangkit dan menghilang ke dalam kamar mandi lagi. Aku menjatuhkan diri di atas kasur, memandang ke langit-langit sambil menggunakan kedua tanganku untuk bantal. Ah, gila.

 

Itu adalah salah satu peristiwa lainnya yang tidak dapat kulupakan seumur hidupku. Aku mengatakan pada Paris bahwa dia tidak kelihatan cantik. Dandanannya sangat medok dan pakaiannya seperti wanita murahan. Khas seperti banci yang sedang mangkal. Dia tertawa, meski masih terdengar senggukan tangisnya. Lalu aku menyuruh Paris untuk berganti pakaian. Dia menurut sambil memasukkan rambut palsu (yang sangat kelihatan palsu), dan segala pernak-pernik perempuan yang sebelumnya dia kenakan ke dalam tas besar yang dia bawa.

 

“Kenapa pengin jadi banci?” tanyaku kala itu.

 

“Aku nggak pengin jadi banci! Aku pengin jadi cewek!” protesnya. “… aku bosan jadi cowok…”

 

“Itu alasannya? Cuma karena bosan jadi cowok?” aku keheranan.

 

“Kamu nggak bakalan mengerti. Kamu cowok. Cowok itu nggak pernah mengerti. Mereka berengsek, bikin susah. Aku nggak mau jadi cowok. Aku benci cowok.”

 

“Aku juga cowok, kan?”

 

“Aku nggak benci kamu…” lanjutnya lirih sambil beringsut dari kamar dan mengajakku pergi. Sayang sekali. Kami sudah membayar mahal kamar itu, tapi kami tidak menidurinya sama sekali. Padahal aku ingin tahu rasanya tidur terlelap di tempat semahal itu.

 

Di mobil suasana terasa hambar. Paris sama gelisahnya seperti ketika berangkat. “Kamu jangan membenciku,” suruhnya sambil menyetir.

 

“Iya,” aku tidak berjanji.

 

Dia mencoba memecah keheningan dengan menyalakan CD. Tapi musik yang terdengar sangat tidak keruan. Sejenis musik rock dari band  My Chemical Romance. Aku hanya kebetulan membaca sampul CD yang tergeletak di atas dasbor.

 

“Musik sampah!” caci Paris pada selera musik Oskar sambil mematikan CD player.

 

Sebelum mengantarku pulang Paris mengajakku berkeliling ke beberapa salon untuk menagih uang kreditan mereka, sekaligus memasok barang-barang yang baru.

*

 

Aku rebahan di dalam kobong karena hari sudah semakin malam. Sepi. Orang-orang masih latihan pencak silat. Aku merasa sedikit rugi karena melewatkan satu sesi latihan itu. Tapi di lain pihak senang karena tidak jadi kehilangan keperjakaan. Dan tentunya karena aku tahu ternyata Paris tidak bernafsu kepadaku. Itu melegakan. Tapi, Paris… kenapa dia mau jadi perempuan? Apa karena tingkahnya yang lenggak-lenggok itu? Apakah setiap lelaki yang tingkahnya demikian itu berarti ingin jadi perempuan? Apakah Yusuf juga ingin jadi perempuan?

 

Ketika aku memandangi langit-langit kobong yang berlubang-lubang, tiba-tiba Yusuf masuk ke dalam ruangan. Aku memandangnya sekilas. Rasanya sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Dia melempar tasnya dengan asal ke pojok kamar. Lalu mengunci pintu.

 

“Liat nih…”

 

Aku memandangi sarung itu. “…BHS asli?” tanyaku kagum.

 

“Iya asli,” katanya manggut-manggut. “Kamu nggak bakalan mampu beli,” katanya lagi sambil melipat sarung merah bergaris hitam itu dengan rapi. “Ini bakalan kukasih ke abangku, sogokan, biar dia tutup mulut nggak nanya-nanyain dan nggak mata-matain aku terus.” Lanjutnya lagi.

 

“Bukannya nanti dia malah curiga?”

 

“Itu sudah kupikirkan. Aku mau bilang ke dia kalau aku kerja… jadi aku punya alasan buat jarang-jarang ada di pesantren,” matanya menyipit ke arahku dengan licik.

 

“Kerja apa?”

 

“Rahasia,” jawabnya masak bodoh.

 

“Kalau dia masih nanya?”

 

“Bilang saja kerja jadi SPG di mall… Please deh, aku tuh pinter banget…” katanya sambil memutar-mutarkan bola mata kagum pada diri sendiri. Padahal SPG kan Sales Promotion Girl, kerjaan buat perempuan, kalo buat cowok namanya SPB.

 

“Malam Kamis ini aku mau jalan, clubbing lagi. Kamu harus ikut, soalnya aku mau kenalin kamu ke om-om tajir.”

 

“Ogah,” tuntasku. “Emangnya aku cowok apaan?”

 

“Cowok mata duitan… jujur deh, kamu macarin Paris, juga demi uangnya, kan?” Yusuf menjebol perasaanku. Matanya memandang menyelidik. Aku memalingkan muka

 

Terlalu banyak informasi, satu temanku menjual diri pada om-om, lainnya ingin menjadi perempuan.

________

Reference:

Nuril Basri. ‘Perempuan’. Queer Southeast Asia: a literary journal of transgressive art Vol. 1. no. 1, October 2016.

[THIS IS A REPRINT.]

RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
http://queersoutheastasia.com/perempuan-nuril-basri-issue-1
Twitter
Pinterest