The Inaugural Issue

Read the English translation

Bap 21. Hotel

Nuril Basri

 

Aku memandang Paris dengan gusar. Tenggorokanku terasa kering dan otot-ototku terasa kaku seketika.

“Ma-mau ke hotel?” ulangku kurang yakin, berharap yang kudengar kala itu adalah keliru. Tapi nyatanya Paris mengangguk mengiyakan.

Kecemasan menjalar di sekitar bulu-bulu pahaku, tidak tahu kenapa aku merasa demikian. Namun, aku menemukan Paris yang rupanya terlihat jauh lebih merana daripadaku. Wajahnya tegang dan dia mulai menggigiti bibirnya. Aku juga bisa memerhatikan matanya yang sudah mulai sedikit berair. Itu membuatku kasihan. Dan itulah yang menggiring pergi rasa cemasku pada akhirnya. Aku menetapkan hatiku. Aku harus lebih lelaki daripadanya.

“Ayo,” suaraku muncul di antara helaan napasku yang berat-berat.

Paris memandang mataku dengan takut. Aku juga takut, tapi entah bagaimana aku bisa merasakan kalau dia sebenarnya jauh lebih takut daripadaku. Aku mendekatinya untuk merangkul pundaknya dan akhirnya mengajaknya pergi dari situ.

Langkahnya tersaruk-saruk, tapi akhirnya kami sampai juga di dalam mobil. Dia diam, aku juga diam. Aku tidak ingin menoleh ke arahnya karena itu akan membuatnya semakin gelisah.

“Sudah tahu mau ke hotel mana?” tanyaku.

Dari ujung mataku aku bisa melihat Paris mengangguk. Dia menyalakan mobil dan meluncurlah kami berdua di dalam kotak mesin wangi apel itu. Tiba-tiba aku mengindera mobil Oskar dengin lebih tajam, mobil Oskar wangi apel, mobil Oskar busa kursinya lebih empuk, mobil Oskar banyak noda rokok dan kopi di mana-mana.

Kami berbalik arah menuju Karawaci, melewati kemacetan yang sama yang kami tempuh sebelumnya. Kira-kira setengah jam, kami turun dari mobil yang sudah diparkir di sebuah hotel yang mewah, namanya Aryaduta. Letaknya tak jauh dari supermal yang biasa kami datangi. Aku tidak pernah masuk hotel sebelumnya. Untuk sejenak, rasa khawatir di dalam dadaku hilang tergantikan kekaguman bocah kampung yang norak. Aku melihat bangunan yang megah itu dengan sedikit takjub dan tidak sabar ingin melihat isinya. Setelah aku mengeluarkan sebuah tas besar dari bagasi, kami mendaftar di meja depan.

“Kamar 219…” ujar wanita cantik itu sambil menyerahkan kunci.

Kemudian seseorang dengan seragam mendekati kami dan mengantar kami menuju kamar. Aku mengekor, sambil memandangi arsitektur dan isi bangunan itu dengan tatapan terpesona. Tembok-tembok dan lantai-lantainya yang terbuat dari marmer mengilau. Pepohonan kecil yang diletakkan di dalam ruangan. Tangga yang meliuk melingkar menuju lantai dua. Hiasan-hiasan dari batu pualam besar yang kelihatannya mahal-mahal. Dan orang-orang santai yang berlalu lalang di lobi dengan bau-baunya yang khas. Bau-bauan orang kaya.

Tanpa sadar kami sudah tiba di kamar yang dituju. Itu adalah kamar jenis Deluxe dengan double bed ukuran king size, dindingnya didominasi warna putih dan coklat muda yang tenang dengan gorden dan furniture sewarna kopi. Petugas berseragam itu mempersilakan kami, kemudian meletakan koper besar Paris di meja rendah. Dia tersenyum dengan agak terpaksa, mungkin karena tidak diberi uang tip. Aku memandangi kamar itu tanpa tahu perasaanku sendiri. Kamar hotel. Aku tak pernah membayangkan diriku akan berada di sini suatu waktu. Ketika itu aku mematung diam sampai akhirnya aku mendengar Paris menutup pintu di belakangku. Bam!

Aku mendekati sisi kamar yang terbuat dari jendela kaca. Dari situ aku bisa melihat ke pemandangan di luar. Aku menoleh kepada Paris yang masih berdiri dengan gugup di seberang tempat tidur. Dia membuang muka.

Dadaku langsung bergemuruh seperti kaleng kosong ditendang di jalan aspal. Ujung jariku bergetar dengan sendirinya. Paris melangkah pelan kemudian duduk di kasur. Badanku maju mundur karena tidak yakin. Kakiku rasanya sangat berat. Aku melihat sepatuku. Sepatu baru. Akhirnya aku melangkah dan berhasil duduk di samping Paris.

Paris memainkan ujung bajunya, sementara aku duduk dengan gaya kaki dibuka lebar. Rasanya seperti ada bom yang siap meledak di jantungku. Keringat mulai mengucur di setiap senti punggungku, aku kegerahan, padahal setelahnya aku menyadari ruangan itu sangat dingin. Ber-AC.

Aku tidak menyangka hubungan kami akan sampai di tahap ini. Meski sebenarnya aku seharusnya tidak kaget lagi. Karena toh, aku ini peliharaannya, kan? Aku dibelikan baju, celana, diberi makan dan diberi uang jajan berbulan-bulan. Dan barusan aku dibelikan sepatu yang mahal. Dia berhak untuk menjamahku. Meski aku sangat keberatan. Tapi jauh dalam hatiku, aku sudah tahu hari ini suatu saat memang akan datang. Aku pasrah. Aku hanya tidak tahu harinya akan tiba pada hari itu.

Dia boleh menyentuh pahaku. Dia boleh meraba selangkanganku—kalau memang itu yang dia mau. Dia boleh menciumku, di pipi, atau di kening, atau di leher, atau di bibir. Ah, terserah yang dia mau sajalah. Aku tidak mesti menikmatinya. Tapi aku tahu, setelah ini, hubungan kami tidak lagi akan sama. Aku jelas-jelas akan meninggalkannya.

Waktu itu aku sangat kecewa pada Paris karena dia menginginkan seks denganku. Aku sangat kecewa, hatiku membiru! Karena kukira selama ini dia hanya ingin berteman denganku. Aku menghormatinya.

Sama-sama dari kami hanya duduk berdiam seperti dua bangau menunggu ikan lewat. Diam-diam saling mengamati. Aku ragu apakah aku yang harus memulai gerakan duluan, atau menunggu dia yang menyentuhku? Aku berdeham sekali.

“Tolong…” katanya tercekat. Lalu disambung, “tolong kamu jangan menghakimi aku…” susah payah dia mengatakan itu. Mungkin kalimat itu sudah dirancangnya sedari tadi, atau mungkin sedari kemarin, atau sedari minggu lalu.

Aku mengangguk. Oke, aku mengerti, faham. Aku teringat perkataan Yusuf. Dia benar, aku tak ada bedanya dengan dirinya… pada akhirnya aku ini hanyalah seorang penjual diri—yang amatir. Dan Paris berhak atasku. Sedari awal memang keinginanku untuk jadi peliharaannya. Sekarang dia meminta haknya dan itu wajar. Aku tidak berhak menghakiminya. Dan kukira, ketika Yusuf menghakimiku sebagai penjual diri kala itu, lalu aku marah besar, semata karena aku merasa aku memang seorang penjual diri. Tapi tak ingin mengakuinya.

“Dari dulu aku ingin sekali melakukan ini…” Jelasnya lagi merana.

Aku mengangguk lagi. Masih belum bisa mengeluarkan kata-kata apa pun dari mulutku.

Dia mendesah, “Tapi aku nggak berani…”

Aku bergeming membisu. “Cu-cuma sama kamu… soalnya… soalnya aku percaya sama kamu…” lanjutnya.

Aku terperangah. Cuma padaku? Apakah dia menyimpan rasa suka padaku? Rasa suka secara seksual? Aku tidak tahu selama ini dia berhasrat padaku.

“Terserah kamu mau bicara apa… terserah kamu mau meninggalkanku setelah ini… aku tahu itu resikonya untuk hal yang bakalan aku lakukan ini… tapi kamu harus mengerti, dari dulu aku pengin banget melakukan ini… tapi nggak tahu harus ke siapa… aku cuma punya kamu…” Dia diam, aku mencerna kata-katanya. “Jujur, aku pengin kamu untuk nggak membenciku setelah ini… aku cuma ingin jadi diri sendiri…”

Aku tidak tahan dengan ocehannya yang sangat melodramatis. Ini hanya tentang seks. Aku ingin cepat-cepat melakukannya dan melewatinya, aku tidak butuh intro yang berlebihan. Mari kita lakukan dan akhiri, dan urusan apakah aku akan membencinya di akhir cerita, itu urusan lain. Itu urusanku. “Kamu nggak tahu betapa ini keputusan yang berat buatku…” Tapi dasar memang si Paris itu berjiwa perempuan, dia sangat terbawa emosi seolah dia adalah seorang gadis perawan yang sangat bernafsu tapi tidak ingin merasa malu saat kehilangan keperawanannya. Mungkin dia dilema. Dan cerewet.

“Oke.” Akhirnya kata itu keluar dari mulutku sebagai persetujuan dari apa pun yang dia inginkan tapi tak kujanjikan kukabulkan.

“Serius?” tanyanya takut-takut.

“Ya, lakukan saja yang kamu mau,” jawabku sejantan mungkin.

Jadi, daripada lama-lama, akhirnya aku memutuskan aku yang akan mendekatinya. Aku ingin mimpi buruk ini cepat berakhir. Namun ketika aku bergeser mendekat, bersiap memeluknya, Paris tiba-tiba bangkit dari duduknya.

Aku memandangnya keheranan.

“Ka... kamu sudah siap?” tanyanya grogi.

Aku mengangguk. Mulutku terbuka. Siap tidak siap, aku harus melayani (itu yang terngiang di otakku). Jadi kenapa dia kabur?

“Aku ke kamar mandi… dulu…” katanya beringsut sambil membawa tasnya yang besar itu. Mungkin sesi menangisnya akan dilanjutkan di sana.

Aku mencoba bersikap serileks mungkin. Kalian tidak akan percaya, bahwa dalam situasi seterdesak itu aku sempat-sempatnya membaui ketiakku dan mengetes bau mulutku. Pemikiran tolol itu tiba-tiba muncul: aku tidak ingin terlihat mengecewakan untuk Paris.

Aku menunggu lima menit. Lalu sepuluh menit. Sepatu baruku kuketuk-ketukkan ke lantai yang berkarpet coklat. Aku menggaruk karpetnya. Belum pernah merasakan lantai yang keseluruhannya terbuat dari karpet. Aku membuka sepatu baru itu, juga kaos kakinya. Lalu lima belas menit lewat… punggungku terasa pegal, jadi aku bangkit dan berjalan sambil mengindera ruang hotel itu. Bau-baunya kuciumi… temboknya kuraba… tirainya kubuka dan melihat pemandangan ke arah kolam renang. Aku memasang AC-nya lebih dingin… lampu-lampu kunyala-matikan berkali-kali. Berputar di ruang hotel seperti sebuah gasing loyo. Mungkin 25 menit lewat dan akhirnya aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Ah, nyaman sekali… empuk, wangi dan bersih… aku membayangkan akan berguling-gulingan dengan Paris di atas kasur itu.

Tiga puluh menit. Aku mulai khawatir, apa yang sedang dilakukan Paris selama itu di dalam kamar mandi? Apa jangan-jangan dia mau bunuh diri? Atau jangan-jangan dia sudah mati? Aku terperanjat hebat.

Aku mengetuk pintu kamar mandi. “Ris…” panggilku.

Terdengar suara grasak-grusuk dari dalam. “Sebentar, aku belum siap…”

Degup jantungku mereda. Setidaknya dia masih hidup. Meski aku bertanya, persiapan bercinta apakah yang memerlukan dirinya hingga mendekam dalam WC selama setengah jam? Semoga dia tidak ingin melakukan hal yang aneh.

Aku menemukan remot televisi lalu menyalakan TV plasma layar datar yang menempel di tembok. Saluran kabel. Acaranya tidak ada yang menarik ketika akhirnya aku memutuskan untuk menonton kartun Spongebob dalam bahasa Inggris. Lalu aku mulai ketawa-tawa meski tidak mengerti maksud dari perkataan kartun-kartun itu… yang penting melihat ekspresi mereka.

Lalu pintu kamar mandi itu pun terbukalah.

________

Reference:

Nuril Basri. ‘Hotel’. Queer Southeast Asia: a literary journal of transgressive art Vol. 1. no. 1, October 2016.

[THIS IS A REPRINT.]

RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
http://queersoutheastasia.com/hotel-nuril-basri-issue-1
Twitter
Pinterest