The Inaugural Issue

Read the English translation

Bab 33. Bukan Perjaka

Nuril Basri

 

Lolos ke semi final berarti Yusuf harus naik ke panggung minggu depan sambil membawakan sebuah lagu secara lipsynch. Mereka juga boleh menari atau apalah yang menunjukkan bakatnya masing-masing, mungkin main sulap atau tari ular kobra. Tapi kebanyakan sih, ya, melakukan lipsynch itu. Soalnya pekerjaan itu yang bakalan mereka dapat kalau jadi juara nanti.

 

“Mungkin lagu dangdut aja, biar heboh,” kami sedang menyantap sarapan pagi di McDonalds 24 jam selepas malam pengumuman semi final Miss Bencong. Aku dan Oskar sibuk mengisi perut saat Paris mengeluarkan sebuah tabung kecil dari dalam tas jinjing bermerk Etienne Aigner-nya. Mengeluarkan beberapa butir pil dari dalam tabung itu, kemudian menenggaknya.

 

“Kamu sakit apa?” tanya Yusuf penasaran.

 

“Aku nggak sakit, ini obat hormonku,” jawab Paris cuek sambil memasukkan kembali tabung itu pada tasnya. Yusuf memandang ke arah Paris dengan tidak mengerti. “Jadi kamu mau pakai lagu apa? Aku bisa bantu gerakannya,” kata Paris.

 

Akhir-akhir itu Paris semakin menjadi dengan program berubah bentuknya. Dia membaca banyak artikel dari internet sehubungan dengan perubahan kelamin, sambil lalu melaporkannya padaku dari waktu ke waktu. Segalanya tentang operasi pelastik, pembuangan kelamin, operasi pengangkatan jakun, bagaimana dia ingin menumbuhkan rambut, sepanjang apa, model apa. Dia mencabuti bulu alisnya. Melakukan diet supaya lebih kurus dan tampak lebih ramping. Mencari ganjalan beha yang tepat supaya kelihatan natural. Dia bahkan membeli majalah-majalah gadis untuk dilihat cara-cara dandan yang benar. Semua majalah itu kadang dititipkan di Yusuf. “Nanti aku mau pakai suntik hormon, biar nggak perlu minumi pil KB murahan ini lagi.” Katanya. Oh iya, dan dia memaksaku mengantarnya ke toko obat untuk membeli persediaan pil-pil KB sialannya itu.

 

Teringat hal tentang Paris yang semakin hari semakin serius tentang perubahannya, iseng-iseng aku menegur Yusuf. Kami berdua sedang mengurung diri di dalam kamar sambil memakani jajanan yang kubeli dari Indomaret.

 

“Kamu mau jadi banci Suf?” tanyaku.

 

Yusuf menoleh kaget dari majalah yang sedang dibacanya. Mengikuti jejakku, dia tak belajar sama sekali untuk ujian kenaikan kelasnya. Tapi bukan karena dia malas, dia memang pintar. Dia tak ambil pusing tentang menghafal pelajaran atau rumus-rumus, malah kontes Miss Bencong itulah yang menyedot perhatiannya.

 

“Ngomongnya nggak usah kencang-kencang,” kata Yusuf risih, dia memperhatikan bayangan-bayangan orang yang berlalu lalang dari balik bilik kobong yang bolong-bolong. “Aku nggak pengin jadi banci.” Katanya sambil melotot.

 

Aku terdiam karena tidak puas dengan jawabannya. Dan dia tahu itu. “Aku cuma pengin menang sesuatu. Aku gak pernah menangin apa pun selama hidup. So, aku ngelakuin ini bukan karena suka. Iya, sih, suka.” Dia menghela napas. “Tapi aku gak bakalan selamanya jadi begini. Dan kamu nggak usah khawatir. Aku gak suka jadi banci. Aku lebih suka jadi cowok. Lagian aku juga awalnya cuma bikin Paris seneng doang kok.”

 

Lagi-lagi Paris.

 

Perkataan Yusuf membuatku sedikit tenang. Diam-diam aku merasa tidak enak pada Bang Ali yang mengawasiku dengan penuh tanda tanya serta pancaran pasrah pada matanya. Dia sangat curiga padaku, pada kami. Apa yang kami lakukan sehingga kami jadi anak gaul berduit seperti ini. Dan aku sedikit lega karena adiknya akan baik-baik saja. Bang Ali tidak perlu khawatir dia akan kehilangan adik laki-lakinya. Oskar yang akan kehilangan.

*

“Seharusnya aku pakai lagunya Agnes Monica,” keluh Yusuf di belakang panggung ketika malam semi final akhirnya tiba. Dia terus-terusan merengek pada Paris.

 

“Ngapain sih? Kamu mau pakai gerakan nginjek-nginjek sawah itu? Yeiy udin eike pilihin lagu inang, Womanizer by Britney Spears, keren abis, kamu pasti menang. Di Amerika lagu ini hits banget tau!” Suruh Paris sambil membantu Yusuf memasang bulu mata palsunya.

 

Semi final itu diadakan di Sabtu malam, minggu ketiga Juni. Itu adalah sebuah malam yang sangat sesak dan panas. Aku berkeringat tiada henti, dadaku basah dan Oskar merasa tidak nyaman terus-terusan. Perlombaan itu diiringi gelak tawa dan tepukan yang kasar tiap kalinya. Semuanya tampak menghabiskan minuman-minumannya yang berisi es-es. Bartender kebingungan melayani pemesanan. Malam panas, esoknya akan hujan. Biasanya begitu.

 

Yusuf tampil dan melepaskan kegrogiannya, dia lupa lirik lagu di beberapa tempat, tapi kelihatannya sih tidak mengapa. Aku cengar-cengir menontonnya sambil bertepuk tangan, bukan karena penampilan Yusuf yang bagus, tapi karena Oskar terlihat lucu didominasi Yusuf diatas panggung. Beberapa hari sebelumnya Yusuf memaksa Oskar menjadi model tambahan. Oskar menolak, karena adegannya melibatkan Yusuf memecut-mecut Oskar dengan cemeti kulit, dia ingin menjadi dominatrix. Tapi Yusuf membisikkan sesuatu semacam: “Dulu aku belum memaafkanmu, kalau mau benar-benar kumaafkan, yah… kamu harus mau.” Akhirnya dengan berat hati Oskar pun setuju. Sebenarnya aku yang sedikit memberikan ide itu pada Yusuf.

 

Di tengah pertunjukan itu, dimana Oskar sedang berpura-pura menjadi anjing dan Yusuf naik di punggungnya,  Paris mendatangiku dengan panik.

 

“Aku diliat si Iwenk!” matanya berair dan mukanya tampak sangat tegang.

 

“Kenapa?” aku berharap bisa mengepakkan sayapku supaya bisa sedikit mendinginkan suasana.

 

“Si Iwenk ngeliat aku!!!!” tekannya lagi.

 

Butuh beberapa waktu buat otakku menangkap maksud itu. “Terus?”

 

“Terus dia ketawa. Aku setres!!” Paris hampir mencopot wignya ketika melompat-lompat resah. Aku lupa memberitahunya kalau Iwenk memang sudah tahu dan dia tidak usah kaget. Tapi tidak ada waktu memberitahunya kala itu, Paris keburu panik seperti banci kehilangan kondenya.

 

“Yasudah gak apa-apa, lagian kan lama-lama juga orang-orang harus tahu,” kataku menghibur.

 

“Ogah! Aku gak mau ketahuan! Gak boleh ada yang tahu!” katanya marah. Aku merengut tidak mengerti.

 

“Ya terus maumu apa?” aku malas meladeninya. Sangat panas. Aku ingin terbang dari situ.

 

“Aku mau balik. Aku mau balik…” katanya dramatis. Aku memerhatikan wajahnya, dia sepertinya malu. Aku tak mengerti kenapa. Jika yang dimauinya adalah menjadi wanita, dia harus bisa menunjukkannya pada orang lain, bukan pada kami saja.

 

“Balik bareng Yusuf,” kataku. “Tungguin dia dulu.”

 

Paris bergerak resah sambil menggigiti bibirnya. Tapi dia menurut. Ketika Yusuf selesai tampil, Paris buru-buru menjawilnya dan mengajaknya pulang. Pengumuman peserta yang lolos babak final bahkan belum diberitahu. Aku dan Oskar masih harus bekerja sampai esok pagi, atau kami kira begitu.

 

Ketika acara hampir usai, aku dan Oskar duduk berduaan di bar. Dua malaikat bergandengan, membuat iri para clubber yang datang. Orang-orang beberapa kali menawari kami minuman dan mencoba mengajak ngobrol, tapi karena hawa yang panas, kami sedang tidak mood. Sampai datanglah orang itu.

 

Mulyono. Jika kalian lupa, banci pemilik franchise salon yang dulu pernah dikenalkan Iwenk kepadaku. Peristiwa ketika dia mencoba menjamahku di kamar mandi di rumahnya yang besar. Aku tak tahu apa yang dilakukannya di sini tapi dia tersenyum menyebalkan ke arahku. Aku sangat muak.

 

“Waw, seksi,” sapanya sambil duduk dan menilai-nilai tubuhku. “Apa kabar?” dia menjulurkan tangannya sambil mesam-mesem, tapi tidak kusambut, aku memandang lurus ke depan. “Ih sombong ya sekarang… mentang-mentang sudah jadi artis…”

 

“Biasa saja kok,” jawabku kelu. Aku malas sekali dengan orang ini. Tatapan mesumnya membuatku jengkel dan marah.

 

Oskar menenggorku sekali, mengingatkanku kalau aku sedang meladeni seorang pelanggan, tapi tak kuhiraukan. Kami sudah biasa menghadapi orang yang seperti ini. Peraturan dari si Om Bos, jika ada orang yang seperti ini, meski kami tidak suka dan merasa terganggu, kami tak boleh menunjukkan muka masam. Tapi untuk si Mulyono ini, aku tak bisa berpura-pura ramah. Aku terlanjur jijik. Jika bisa kugerakkan, aku ingin mengepakkan sayapku ke mukanya biar dia tersabet dan terluka.

 

“Kenalin dong ke temannya… kayaknya macho banget…” kata Mulyono sambil melirik-lirik ke Oskar. Oskar hanya tersenyum kecut seperti biasanya. Kami merasa diperlakukan secara murahan oleh si Mulyono, makanya kami merasa tidak suka. “Tarifnya berapa?” tanya Mulyono lagi dengan kurang ajar.

 

Sorry bos, kita bukan penjual diri. Bos boleh lihat, tapi gak boleh pegang,” tegas Oskar saat itu juga.

 

“Wah, jual mahal ya. Aku suka loh yang gak gampangan…” katanya lagi menggoda.

 

Kami berdua mendengus terganggu. Berharap hari cepat pagi dan semua ini lekas berlalu.

 

“Aku beliin minuman mau, ya?” tawar si Mulyono.

 

“Gak usah, makasih,” jawabku cepat-cepat.

 

“Gitu amat sih… aku tahu deh aku ini bukan tipe kalian… tapi minimal kalian mau aku beliin minuman…”

 

Sedikit rasa tidak enak melintas di perutku. Lama berselang Mulyono menyerahkan dua gelas minuman kola pada kami. Aku dan Oskar mengambilnya sedikit terpaksa, dan menyesapnya karena perasaan kasihan. Tapi malam itu panas dan minuman kola ber-es itu terasa sangat menyegarkan. Jadi kuhabiskan juga.

 

Setelah berdiri di samping kami untuk beberapa waktu, Mulyo mulai mengangguk lalu bergeser meninggalkan kami. Dan tahu tidak? Sisa malam itu—setidaknya sebanyak yang bisa kuingat—terasa begitu menyenangkan bagiku. Aku merasa ingin berjoget. Jadi aku menggaet Oskar dan kami berdua turun ke tengah-tengah kerumunan orang yang masih memanfaatkan sedikit waktu sebelum club tutup. Aku dan Oskar tertawa-tawa. Kami merasa pusing, tapi hangat. Aku tidak tahu apakah Oskar merasakan itu juga. Tapi aku merasa gembira dan aneh. Kami dua malaikat yang turun ke lantai karena terlalu gembira. Peristiwa ini tak pernah terjadi sebelumnya. Tak peduli sayap kami menyabet-nyabet orang lain.

 

Ketika seseorang menarik lenganku untuk menjauh dari kerumunan, aku menurut sambil tertawa-tawa. Aku menarik tangan Oskar erat-erat dan dia ikut tertawa-tawa juga.

 

“Ke mana nih?” tanyanya cungar-cengir diiring ingar bingar lagu.

 

“Ke surga… kita terbang…” jawabku membiarkan tanganku ditarik seseorang.

 

Dan setelah itu kami tak sadarkan diri.

 

Aku mendengar suara HP berdering beberapa kali. Bunyinya memekakan telinga. HP itu berdering lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi berulang puluhan kali, nadanya kuhafal. Mataku sangat berat, terkatup rapat dengan kelopaknya yang terasa ditindih batu bata. Aku separuh sadar, separuh mengambang. Tapi HP itu terus berteriak nyalang. Mataku terbuka sedikit, pandanganku kabur, tapi aku bisa menemukan tersangka nyaring itu tergeletak di tepi ranjang. Menyala-nyala sambil bergetar-getar menggila. HP kepunyaan Oskar. Kubiarkan sebentar HP itu, mungkin akan berhenti sendirinya. Tapi dia tidak mau berhenti berbunyi. Seseorang menelpon dengan gila-gilaan. Deringnya yang mendengking menusuk jaringan saraf otakku. Mungkin aku harus mengambilnya. Lalu kulempar.

 

Kugerakkan tangan kananku. Tapi aku tidak bisa bergerak. Lalu tangan kiriku, itu juga tidak bisa bergerak. Ada yang tidak beres, batinku tanpa sadar. Mungkin aku masih mimpi. Aku diam sebentar sambil menikmati suara dering HP itu. Mengumpulkan nyawaku supaya kesadaranku kembali penuh. Lalu ketika setengah tersadar, aku menemukan diriku berada di tempat yang asing. Leherku, punggungku, pinggangku, dadaku, puting payujaka-ku, pahaku, pantatku, selangkanganku, semua terasa nyeri. Kutoleh-tolehkan kepalaku biar segalanya lebih jelas. Dan saat itulah aku menemukan Oskar. Terbaring dengan lunglai. Di atas kasur. Telanjang. Kedua tangannya terikat ke tepian. Matanya tertutup kain dan sejenak aku bisa menemukan sayap-sayapan kami yang sudah patah berserakan di sekitar. Kulihat diriku. Duduk di sebuah kursi. Terikat erat pada kedua tangan. Tak berpakaian.

 

HP kembali berdering.

 

Aku berusaha mati-matian melepaskan ikatan tanganku. Hatiku memburu. Pusing yang menyengat kepalaku tak kuhiraukan. Aku menggila melepaskan ikatan itu. Satu tangan terlepas, lalu dengan sebelah tangan itu kuraih HP. Paris memanggil.

 

“Halo, kalian pada di mana sih? Kita cariin dari tadi malam. Pergi gak bilang-bilang. Heh, jawab, jangan diam aja. Haloooo… Oskarrrrrrr!!!”

 

Mulutku tak bisa berucap sepatah kata pun.

 

Pandanganku jatuh pada Oskar lagi dan tiba-tiba aku ingin meledak marah. Aku ingin menampar Oskar yang terbaring tak berdaya, terikat dengan pasrah. Kulepaskan ikatanku satu lagi, lalu bergerak cepat ke arah Oskar. Kubuka kedua ikatan di tangannya sambil berteriak.

 

“Bangun… Bangun…” namun suara yang keluar dari mulutku tidak beda jauh dengan geraman macan yang sedang sakit. Aku tak bisa berteriak. Butuh waktu lama untuk menyadarkan Oskar. Dan ketika separuh sadar, kengerian muncul saat dia menemukan aku dan dirinya telanjang seperti dua binatang liar.

 

Kami saling tidak mengatakan apa-apa. Kami hanya bertatapan dengan mataku bergenang air.

 

Aku mencoba menemukan celana dalamku, lalu melempar celana dalam Oskar ke dekatnya. Tubuh kami bau. Kamar itu terasa sangat bau. Badanku terasa remuk. Oskar menelpon Paris.

 

“Jemput.” Katanya terputus. “Jemput aku, Ricky.” Aku tahu mulutnya sangat kering. Aku merasa mulutku sakit.

 

“Di mana?” aku bisa mendengar suara Paris yang kencang.

 

Oskar memandang ruangan, meneliti dengan malas. “Hotel. Hotel murah yang kau pakai buat dandan.”

 

“Kamar berapa?” tanya Paris lagi.

 

“Nggak tahu! Cari sendiri! Tanya!” bentak Oskar tiba-tiba meninggi. Amarahnya sebenarnya tak perlu diluapkannya pada Paris, lalu dia sadar. “Bawakan kita baju,” suaranya tiba-tiba menjadi pelan, tapi masih menahan gengsinya. Telepon ditutup. Kami tidak saling bertatapan lagi.

 

Ketika Paris datang, dan entah bagaimana bisa menemukan kamar kami, matanya membelalak kaget, dan mulutnya terbuka lebar. Kami segera memakai baju yang dibawakannya. Lalu pergi ke luar dari hotel. Beberapa langkah keluar dari pintu, kami dikejar satpam. Katanya kami belum membayar penuh biaya inapnya. Paris mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu, kemudian menyerahkannya dengan buru-buru.

 

Di dalam sedan sudah ada Yusuf yang tertidur di kursi depan. Aku dan Oskar masuk dan duduk dengan lemas di belakang.

 

“Aku gak mau pulang,” ujarku.

 

Paris mengambil inisiatif untuk memegang setir, kemudian masuk ke dalam jalur tol terdekat. Dia tidak berbelok di pintu tol keluar Tangerang. Dengan diam terus menyetir dan berada dalam jalur tol yang menuju entah ke mana. Awalnya aku tak sempat memperhatikan, namun lalu aku tahu kami sedang berada di tol Jakarta – Merak. Di salah satu tempat perhentian Oskar memutuskan untuk menyupir. Di kursi belakang Paris tiba-tiba terbatuk-batuk karena mencoba merokok, aku tidak tahu dia mendapatkan rokok itu dari mana. Oskar memandangnya dari kaca depan. Aku memandang Oskar, tapi dia tak ingin memandangku.

 

Kami menyusuri tol Balaraja, kemudian Serang Timur dan Barat, lalu meyambung Tol Cilegon. Setelah menempuh kira-kira 140 KM, kami keluar di pintu tol Cilegon Barat. Mulanya kupikir kami akan meneruskan perjalanan sampai dengan pelabuhan Merak kemudian menyeberang ke Sumatera dan melanjutkan perjalanan ke ujung Indonesia, lima ratus kilometer jauhnya. Tapi Oskar berbelok keluar dari tol dan mengambil jalan yang sedikit becek dan berbatu, aku melihat banyak pabrik yang menandakan kami memasuki kawasan industri. Jalanan dilalui banyak mobil besar.

 

Kami melewati bagian itu, kemudian tiba di daerah yang lebih tenang. Tak berapa lama kami tiba di daerah pesisir pantai Anyer yang berpasir putih dengan air lautnya yang berwarna perpaduan hijau dan biru lembut. Aku melihat jam dan mengira-ngira kami sudah menghabiskan waktu selama empat jam di dalam mobil. Di tepian yang masih sepi kami memutuskan untuk memarkirkan mobil dan turun. Oskar berlari, aku dan Paris menyusulnya dari belakang.

 

Dia melempar pandang ke garis cakrawala. Lalu tahu-tahu berteriak sekerasnya. Tak ada kata-kata yang keluar, hanya jeritan yang penuh luka.

 

Paris melirik ke arahku, dia bertanya-tanya. Dia masih belum mengerti juga apa yang telah terjadi.

 

“Arr.” Keluar dari mulutku, suaraku serak, aku masih belum bisa teriak, tenggorokanku masih belum stabil.

 

Yusuf yang terbangun memicingkan matanya, dia keluar dari mobil.

 

Oskar yang dadanya menggebu-gebu, buru-buru membukai pakaiannya. Lalu dia menyebur berenang ke lautan. Aku menunggu sebentar. Lalu mengikuti tindakannya. Itu adalah mandi besar pertama kami, setelah kami menyadari bahwa kami ini bukan perjaka lagi. Namun kukira air selautan itu takkan pernah bisa menghilangkan kekesalan sepanjang sisa hidupku nanti.

________

Reference:

Nuril Basri. ‘Bukan Perjaka’. Queer Southeast Asia: a literary journal of transgressive art Vol. 1. no. 1, October 2016.

[THIS IS A REPRINT.]

RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
http://queersoutheastasia.com/bukan-perjaka-nuril-basri-issue-1
Twitter
Pinterest